4 cara untuk berkomunikasi lebih baik dengan pasanganmu

Ditulis oleh:

Winston Lam

Winston Lam

Winston is a psychologist who is passionate about the underlying mechanisms that influence social interactions, human behaviour, and self improvement.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin

iklan

Gay atau straight, setiap pasangan pasti pernah bertengkar. Pasangan yang memberi tahu saya bahwa mereka tidak pernah bertengkar sebelumnya, entah sedang menyangkal, berbohong, atau hubungan mereka belum pernah diuji. Bukan konflik yang menentukan stabilitas dan kepuasan dalam hubungan jangka panjang, tetapi bagaimana pasangan tersebut dapat menagani konflik yang dialami.

Saya ingin menyoroti 4 gaya komunikasi yang menurut penelitian sangat destruktif sehingga jika tidak diubah, dapat menyebabkan kegagalan suatu hubungan: Kritik, Sikap Defensif, Penghinaan, dan Stonewalling.

Kamu mungkin tidak tahu bagaimana caranya untuk mengendalikan diri sendiri agar tidak berkomunikasi dengan pasanganmu dengan cara seperti ini, atau bahkan mungkin kamu tidak menyadari bahwa kamu sedang melakukannya Namun, dengan kesadaran diri dan komitmen untuk berubah, ada beberapa solusi yang sudah teruji untuk memerangi pola komunikasi seperti ini, menangani konflik dengan cara yang jauh lebih sehat, dan dapat memperkuat hubunganmu.

  1. Berikan kritikmu secara spesifik

Mengritik adalah ketika kamu membuat keluhanm terdengar seperti masalah yang kamu miliki adalah dengan pasangan kamu sendiri, bukan dengan perilakunya secara spesifik. Pernyataan seperti “Kamu sangat egois!”, dan “Kamu tidak pernah memikirkan aku!”, adalah contohnya. Dengan mengkritik pasanganmu alih-alih menyuarakan keluhanmu secara spesifik, kamu menyiratkan bahwa ada sesuatu yang salah dengan pasanganmu, dengan dirinya.

Hal ini bisa membuatnya merasa sakit hati dan merasa ditolak, serta dapat menurunkan harga dirinya. Kritik dapat secara langsung mengarah pada gaya komunikasi lainnya yang tidak sehat. Dari pada menggunakan kritik, cobalah menyampaikan keluhanmu dan tangani suatu insiden atau perilaku tertentu secara spesifik, bukan menyerang orangnya.

Kamu juga dapat lebih banyak menyatakan “saya” seperti “saya merasa tersisih ketika kamu melakukan hal ini.” Pikirkan tentang permintaan atau kebutuhan apa yang ada di balik kritik yang ingin kamu sampaikan, dan gunakan pernyataan tentang “saya” dalam penyampaiannya.

2. Jangan bersikap defensif

Ketika kamu menganggap pernyataan atau pertanyaan dari pasanganmu sebagai sebuah serangan, dan mencoba untuk membela diri, maka kamu sedang bersikap defensif. Cara yang paling umum termasuk dengan melakukan serangan balik, mencari-cari alasan, atau bertingkah sebagai korban.

Sikap defensif hampir tidak akan pernah berhasil karena pada akhirnya kamu hanya mengalihkan kesalahanmu kembali kepada pasanganmu dan hal tersebut tidak menyelesaikan masalah. Belajar untuk mendengarkan secara aktif terlebih dahulu dan tidak reaktif. Cari tahu dengan jelas apakah yang dia katakan benar-benar dimaksudkan sebagai keluhan atau serangan. Kemudian, terima apa yang menjadi tanggung jawabmu, meski hanya sebagian kecil saja. Ketika kamu melakukan hal tersebut, kamu memberi isyarat kepada pasanganmu bahwa kamu peduli dengan apa yang ia katakan.

3. Jangan menghina

Penghinaan adalah gaya komunikasi terburuk dan yang paling mematikan dari semuanya. Penghinaan adalah saat kamu menempatkan dirimu di tempat yang lebih tinggi, terkadang secara moral, dan saat kamu memandang rendah pasanganmu.

Perilaku menghina secara langsung bisa terkesan jahat dan tidak sopan. Dan hal itu dapat terlihat tanpa ada kata yang diucapkan, mencibir, memutar bola mata, atau pun mengejek. Menghina juga merupakan gaya komunikasi yang paling sulit untuk diperbaiki. Dibutuhkan usaha jangka panjang dari kedua belah pihak untuk membangun apresiasi di antara keduanya.

Sebuah pasangan harus terus-menerus mengingatkan diri mereka sendiri untuk fokus pada sifat-sifat positif yang mereka hargai dari pasangan mereka, bahkan ketika mereka sedang bertengkar.

4. Jangan menutup dirisecara emosional

Stonewalling atau membangun tembok pertahanan mengacu ketika seseorang berpaling dari sebuah percakapan. Seseorang dapat membangun tembok pertahanan dengan menutup diri dan berhenti merespon, atau meninggalkan percakapan secara fisik. Biasanya hal ini menandakan bahwa dia merasa kewalahan secara emosional.

Meskipun terkadang respon semacam ini dapat dimengerti, namun hal ini juga dapat memberi kesan kepada pasanganmu bahwa kamu tidak menaruh perhatian yang cukup pada masalah tersebut. Membangun tembok pertahanan sangat sering terjadi pada pasangan pria gay, karena penelitian menunjukkan bahwa mayoritas orang yang melakukan hal ini adalah pria.

Ketika kamu merasa terlalu marah atau lelah dari percakapan tersebut, komunikasikan dengan pasanganmu dan masing-masing harus mencoba beristirahat dan melakukan aktivitas lain yang tidak berkaitan, lebih baik lagi jika melakukan suatu aktivitas yang dapat menenangkan diri. Tapi jangan lupakan masalah tersebut, dan kembali lagi setelah kamu sudah merasa cukup tenang.

Apa selanjutnya?

Sekarang setelah kamu menyadari pola-pola negatif ini, kamu mungkin menyadari bahwa kamu sendiri terkadang melakukan beberapa hal tersebut. Dan itu adalah hal yang bagus. Kesadaran adalah langkah pertama untuk berubah, seperti yang sering dikatakan para psikolog.

Hal ini tidak berarti hubunganmu akan hancur, tetapi kamu harus bekerja lebih keras, seperti halnya semua hubungan, jika kamu ingin hubunganmu berhasil.

Penulis yang sama

dapatkan update terbaru

Berlangganan newsletter kami

Berlangganan newsletter kami