Covid-19 menghancurkan kesehatan mentalmu? Berikut beberapa saran untukmu.

Ditulis oleh:

Yen Feng

Yen Feng

Yen is a freelance editor and yoga instructor at @yen.yoga on Instagram/TikTok and @yenyogasg on Telegram.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin

iklan

Sudah cukup sulit menjadi gay di Asia, di mana banyak budaya dan masyarakat tidak bisa menerima atau hanya sekedar mentolerir homoseksualitas. Kecemasan yang timbul karena dikucilkan, atau bahkan menjadi sasaran dan hukuman, bisa menjadi stres dan dapat menghancurkan kesehatan mental seseorang.

Ditambah lagi dengan Covid-19 maka krisis kesehatan mental tidak bisa dihindari lagi.

Bahkan sebelum pandemi, kelompok LGBTQ ”memiliki masalah yang terkait dengan kesehatan mental dan emosional mereka dalam proporsi yang lebih besar daripada populasi pada umumnya”, menurut UNAids, sebuah badan PBB yang ditugasi untuk memerangi AIDS secara global.

Mereka juga menambahkan bahwa masalah-masalah ini dapat bermanifestasi menjadi depresi, kecemasan, dan bahkan pikiran untuk bunuh diri, yang dapat diperburuk oleh “rasa terkurung dalam kesendirian atau dalam kelompok keluarga di mana mereka mungkin mengalami kekerasan gender”.

Di Amerika Serikat, Rob Todaro, yang merupakan manajer komunikasi untuk Trevor Project, yang mengoperasikan hotline krisis 24 jam untuk kaum LGBTQ muda, mengatakan bahwa dalam survei Morning Consult baru-baru ini, sepertiga dari orang LGBTQ mengatakan bahwa mereka tidak bisa menjadi diri mereka sendiri di rumah, dan sepertiga dari remaja transgender dan nonbiner merasa tidak aman dengan situasi hidup mereka sejak awal pandemi.

Jika kesehatan mental dan emosionalmu menurun selama pandemi, berikut beberapa saran yang dapat membantu kamu dan membantu membimbing keluargamu, pengasuhmu, dan pendukung lainnya.

Temukan orang-orang yang dapat mendukungmu

Memiliki kelompok pendukung yang kuat sangat penting untuk menjaga kesehatan mentalmu.

Hubungi teman-teman dan keluarga yang seusia atau dalam tahapan kehidupan yang sama yang dapat memahami apa yang sedang kamu lalui. Orang-orang ini bisa saja gay atau tidak, atau pun orang-orang lain yang memiliki minat yang sama denganmu. Hal terakhir yang ingin kamu lakukan adalah mengisolasi diri, meskipun jika kamu yakin kamu cukup kuat untuk menghadapi pandemi ini.

Kalau tidak dapat bertemu secara fisik, bisa juga melalui pesan atau pun video call. Hubungan positif ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental kita dan dapat membantu melawan rasa kesepian dan depresi.

Menciptakan rutinitas

Di saat-saat yang tidak pasti seperti sekarang, membuat semacam rutinitas untuk dirimu sendiri dapat selalu membantu. Membuat jadwal harian sangat membantu – terutama untuk freelancer yang mungkin saja tidak memiliki jam kerja yang reguler.

Rutinitas dapat memberikan struktur dan rasa kepastian, yang dapat membantu mengurangi kecemasan tentang hal-hal yang tidak diketahui. Kalau saya, saya suka memulai hari dengan meditasi ringan selama 15 menit, beberapa peregangan dan membaca sebelum saya melanjutkan ke menulis dan mengedit.

Pada sore hari, saya menyisihkan beberapa jam untuk berolahraga dan saya berusaha untuk tidur pada pukul 11 ​​malam.

Berhubungan dengan alam

Saya pernah menulis tentang ini sebelumnya di sini, dan ini adalah cara yang bagus untuk keluar dari pikiran kita sejenak. Kalau bisa, carilah beberapa teman untuk melakukan aktivitas di luar ruangan bersama kamu, seperti mendaki gunung atau yoga. Meditasi juga membantu.

Apa saja yang kamu lakukan untuk menjaga kesehatan mentalmu? Yuk ngobrol dengan kami di media sosial kami di @asiadotgay di Instagram dan Facebook!

Penulis yang sama

dapatkan update terbaru

Berlangganan newsletter kami

Berlangganan newsletter kami