Conceptual composition, male hand holding a banana as gun, symbolically representing a caution about healthy diet, or it is better to hold a food than a gun, etc.

Tertular HIV dari seks oral – apakah mungkin?

Ditulis oleh:

Dr Tan Kok Kuan

Dr Tan Kok Kuan

Dr Tan is a medical doctor in private practice focusing on men's health, and a contributing author of the Singapore HIV PrEP prescribing guidelines and the Blueprint to end AIDS and HIV transmission in Singapore by 2030. Read more of his articles at http://drtanmenshealthblog.com.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin

iklan

Apakah kita bisa tertular HIV dari seks oral? Meskipun penelitian HIV telah berjalan lebih dari 35 tahun, jawaban atas pertanyaan ini tetap sulit dipahami. Hampir setiap pakar dan situs web akan memberikan jawaban yang sama, yaitu “risikonya sangat rendah tetapi bukan berarti nol,” kemudian menyarankan berbagai cara yang harus dilakukan seseorang untuk tetap terlindungi selama seks oral seperti menggunakan kondom dan dam gigi.

Meskipun itu adalah saran yang bagus, tapi sebenarnya tidak menjawab pertanyaan. Jadi, dalam artikel ini saya akan mencoba memberikan informasi sebanyak-banyaknya dan sedetail-detailnya.

Teori vs. data

Ada banyak teori dalam topik penularan HIV melalui seks oral. Semua pasti setuju kalau secara teori hal ini bisa terjadi. Atau seperti yang dikatakan beberapa ahli, penularan HIV melalui seks oral “masuk akal secara biologis”.

Logikanya cukup mudah: Virus HIV ditemukan dalam air mani dan cairan vagina. Ketika air mani dan/atau cairan vagina bersentuhan dengan mukosa bukal (lapisan basah di bagian dalam mulut), virus HIV dapat menginfeksi orang tersebut. Selain itu juga ada banyak teori tentang adanya sariawan, penyakit gusi, abrasi pada gusi, dan perawatan gigi belakangan ini, dll yang meningkatkan risiko penularan HIV.

Di sisi lain ada lebih banyak teori tentang mengapa penularan HIV melalui seks oral tidak memungkinkan. Mulai dari adanya berbagai bahan kimia dan antibodi dalam air liur yang akan menonaktifkan virus. Hingga fakta bahwa air liur sangat encer (potensi osmotik rendah) dan karenanya akan membuat virus terpecah. Dan fakta bahwa laju aliran air liur yang tinggi akan membersihkan cairan tersebut sebelum virus sempat menginfeksi.

Secara pribadi saya merasa diskusi teoritis dapat berlangsung seharian tanpa berkontribusi banyak dalam menjawab pertanyaan tersebut. Saya lebih suka melihat langsung pada faktanya. Itulah yang akan jadi fokus saya dalam artikel ini.

Pertama-tama, mari kita lihat apa yang dikatakan badan kesehatan terkemuka tentang penularan HIV melalui seks oral.

ASHM – “tidak dapat memperkirakan risikonya – sangat rendah”
US CDC – “rendah”
BHIVA – “< 1 dari 10,000”
Alberta Health – “rendah tapi bukan nol (0.01%)”
New York Health – “Rendah. Penularan HIV telah tercatat, namun jarang. Estimasi risiko yang akurat tidak tersedia. Bijak untuk mempertimbangkan PEP non-okupasi untuk seks oral reseptif dengan ejakulasi, meskipun diskusi tentang risiko rendah harus dipertimbangkan”.

Yang terakhir ini menarik bagi saya. Apakah benar terdapat kasus penularan HIV melalui seks oral yang didokumentasikan?

Laporan kasus penularan HIV melalui seks oral

Saya pun menggali lebih dalam. Ya, ada beberapa laporan kasus penularan HIV melalui seks oral yang diterbitkan pada 1980-an dan 1990-an. Semuanya bergantung pada laporan mandiri pasien bahwa mereka tidak melakukan kegiatan seks selain seks oral. Selain itu juga tidak ada tes konfirmasi genetik.

Maaf, coba kita mundur sedikit. Standar emas untuk membuktikan penularan HIV tidak hanya dilihat dari riwayat pajanan saja, tetapi juga ditemukannya virus HIV dengan sidik jari genetik yang sama pada kedua individu. Inilah cara kita bisa mengetahui secara pasti bahwa penularan HIV dari wanita ke wanita adalah hal yang mungkin.

Karena terdapat laporan kasus sero-sumbang (pasangan yang salah satunya mengidap HIV) pada pasangan perempuan. Pasangan yang tidak memiliki HIV tersebut kemudian terinfeksi HIV. Dan penelitian genetiknya menemukan bahwa HIV yang menginfeksinya secara genetik identik dengan jenis HIV yang dimiliki pasangannya.

Saya tidak menemukan laporan lain seperti itu untuk penularan HIV melalui seks oral.

Selain itu, ini adalah semua laporan kasusnya. Dengan kata lain, ini adalah kasus individual yang dilaporkan oleh dokter. Mereka adalah bukti anekdot terbaik.

Bagaimana dengan studi yang lebih besar?

Jadi saya mencari penelitian yang lebih besar tentang penularan HIV melalui seks oral. Namun sekali lagi, tidak ada penelitian yang saya baca yang memiliki kasus penularan HIV yang diverifikasi melalui seks oral. Semuanya menggunakan semacam pemodelan matematika untuk menghitung risiko secara teoretis.

Faktanya, dalam sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2002 yang melibatkan 135 pasangan heteroseksual sero-sumbang HIV yang hanya melakukan seks oral tanpa kondom tidak ditemukan satu pun infeksi HIV. Diperkirakan ada total 19.000 pajanan seks oral tanpa kondom dengan pasangan yang terinfeksi dalam penelitian ini.

Studi lain juga dilakukan pada 2002 kali ini di antara 239 pria yang berhubungan seks dengan sesama pria. Mereka semua hanya melakukan seks oral selama 6 bulan. 28% dari mereka diketahui memiliki pasangan yang HIV-positif. Sekali lagi, tidak ada satu pun kasus penularan HIV yang terdeteksi.

Angka yang sangat umum terdengar adalah 0,04%. Adapun risiko tertular HIV pada pasangan reseptif dalam seks oral (pasangan yang menggunakan mulut) pada pria yang berhubungan seks dengan sesama pria adalah 0,04%. Angka ini sebenarnya berasal dari penelitian yang diterbitkan pada tahun 1999.

Penelitian dilakukan pada 2.189 “laki-laki homoseksual dan biseksual berisiko tinggi” di AS dari tahun 1992 hingga 1994. Dari kelompok studi tersebut, terdapat 60 infeksi HIV baru. Dengan menggunakan model matematika, perkiraan risiko seks oral reseptif per kontak dengan pasangan yang statusnya HIV-positif atau tidak diketahui adalah 0,04%. Sekali lagi, tidak ada kasus penularan HIV melalui seks oral yang terbukti. Risiko ini diperkirakan dengan menggunakan model statistik.

Pada tahun 2014, tinjauan sistematis diterbitkan dalam jurnal AIDS yang mencoba memperkirakan risiko penularan HIV per tindakan. Terdapat bagian bagus yang membahas detail risiko seks oral. Artikel itu juga memperhitungkan studi yang baru saja kita bicarakan di atas, mengenai risiko 0,04%.

Berikut adalah poin-poin lain dalam tinjauan sistematis tersebut:

  1. CDC AS memperkirakan risiko penularan HIV per tindakan seks oral berdasarkan ekstrapolasi data dari seks penis-vagina. (BUKAN dari kasus penularan HIV melalui seks oral yang sebenarnya)
  2. Sebuah penelitian selama 10 tahun di Spanyol yang dilakukan dari tahun 1990 hingga 2000 di antara pasangan heteroseksual sero-sumbang tidak menemukan penularan HIV melalui seks oral dari 8965 tindakan seks oral.
  3. Sebuah penelitian di kalangan lesbian tidak menemukan penularan HIV dari seks oral.

Tinjauan tersebut mengakui bahwa mereka “tidak dapat memberikan perkiraan numerik yang tepat” dari risiko penularan. Dan untuk seks oral di mana tidak ada penularan HIV yang diamati dari tindakan dengan jumlah yang besar, mereka menggunakan interval kepercayaan binomial 95% yang tepat dari Clopper-Pearson. Melalui model statistik ini, risiko penularan HIV dari seks oral adalah 0 sampai 4 dari 10.000 dalam batas kepercayaan 95%.

Dan ajaib! Kita melihat angka 0,04% lagi.

Tentu saja ada jauh lebih banyak lagi penelitian dan laporan kasus tentang penularan HIV dan saya tidak mungkin membahas semuanya. Pesan yang dapat saya simpulkan adalah:

  1. Sepengetahuan saya, belum pernah ada kasus penularan HIV melalui seks oral yang dibuktikan dengan sidik jari genetik.
  2. Semua risiko yang dikutip adalah perkiraan menggunakan model matematika.

Tidak mungkin untuk pembuktiaan negatif

Ini adalah inti dari permasalahannya. Kita tahu bahwa penularan HIV melalui seks oral “masuk akal secara biologis”. Jadi fakta bahwa kita belum melihat kasus penularan HIV melalui seks oral yang terkonfirmasi TIDAK membuktikan bahwa hal itu tidak mungkin. Persis seperti mengatakan hanya karena kita belum pernah melihat alien, bukan berarti alien tidak nyata. Karena memang “masuk akal” bahwa alien memang ada.

Karenanya, kita tidak akan pernah dapat secara yakin bersuara dan mengatakan dengan kepastian yang lengkap dan mutlak bahwa penularan HIV melalui seks oral itu tidak mungkin.

Tanggung jawab para dokter

Alasan lain mengapa kamu tidak pernah mendengar dokter mengatakan penularan HIV melalui seks oral tidak mungkin adalah karena tanggung jawab kami kepada pasien. Dokter selalu ingin pasiennya seaman mungkin, dan selalu ingin pasiennya tetap sehat dan bebas dari penyakit.

Jadi, jauh lebih mudah dan aman untuk memberi tahu pasien untuk menggunakan kondom dan dam gigi untuk seks oral. Ya, kami mengerti bahwa pelindung ini mengurangi kenikmatan dalam hubungan seksual. Namun, kamu harus memahami bahwa dokter pada dasarnya memprioritaskan keselamatan saat kami memberikan saran kepada pasien kami.

Pendapat terakhir mengenai pertanyaan ini

Kalau kamu baru saja melakukan seks oral dan khawatir tertular HIV, kamu seharusnya tidak perlu khawatir. Kemungkinanmu untuk benar-benar terinfeksi secara statistik mendekati nol. Namun, satu-satunya cara bagi kamu untuk benar-benar yakin adalah dengan menjalani tes HIV.

Jika kamu mengalami sakit tenggorokan setelah melakukan seks oral, jangan khawatir. Kemungkinan besar itu bukan karena HIV. Jika paparanmu kurang dari 72 jam yang lalu, segera temui dokter untuk mendiskusikan apakah kamu memerlukan PEP HIV atau tidak.

pengetahuan adalah kekuatan.

Bantu kami menyampaikan informasi penting tentang HIV kepada komunitas Asia yang rentan.

Penulis yang sama

dapatkan update terbaru

Berlangganan newsletter kami

Berlangganan newsletter kami