Kamu mungkin sudah kena herpes. Ini yang perlu kamu ketahui.

Ditulis oleh:

Dr Tan Kok Kuan

Dr Tan Kok Kuan

Dr Tan is a medical doctor in private practice focusing on men's health, and a contributing author of the Singapore HIV PrEP prescribing guidelines and the Blueprint to end AIDS and HIV transmission in Singapore by 2030. Read more of his articles at http://drtanmenshealthblog.com.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin

iklan

Herpes, atau Virus Herpes Simplex (HSV), adalah salah satu penyakit menular seksual yang paling umum di dunia. Saking umumnya, diperkirakan sekitar 30% populasi global adalah pembawa virus tersebut. Mari kita jabarkan.

Jadi, apa itu herpes?

Herpes adalah sebuah virus. Sangat menular dan paling umum ditularkan melalui kontak langsung dengan lesi kulit yang terinfeksi. Lesi bisa berbentuk kulit luka, lepuh, atau pun bisul. Namun, orang-orang pembawa herpes dapat menyebarkan virus melalui kulit normal yang tidak terdapat luka, lepuh, atau pun bisul. Itulah kenapa virusnya mudah menyebar melalui kontak seksual dan berciuman, membuat herpes sebagai salah satu PMS paling umum di dunia.

Sekalinya herpes menginfeksi seseorang, virusnya akan bersembunyi dalam tubuh saraf dan tidak akan bisa sepenuhnya dibasmi dari dalam tubuh. Namun, meskipun herpes hidup dalam tubuh, virusnya tidak akan menyebabkan kerusakan serius kecuali sesekali menyebabkan gejala masalah kulit yang mengganggu. Gejala-gejala ini dapat sembuh dengan atau tanpa diobati.

Apa saja tanda dan gejala infeksi herpes?

Infeksi herpes berganti antara dua fase: (1) Fase akut (flare) yang ditandai dengan lepuhan dan borok yang menyakitkan pada kulit; dan (2) fase kronis (laten) di mana pasien merasa sangat sehat dan bebas gejala sama sekali.

Fase akut

Pada fase akut atau flare, lepuh berisi virus HSV muncul di kulit. Lepuh ini dikelilingi oleh lingkaran kulit merah yang meradang yang membuatnya mendapatkan gambaran romantis sebagai “tetesan embun pada kelopak mawar”.

Bagian tubuh yang paling sering terkena gejala ini adalah di sekitar mulut dan alat kelamin. Jika tidak diobati, lepuh ini biasanya mengering sendiri dalam waktu tiga hingga empat minggu. Namun, inilah saat-saat kamu paling menular. Saat lepuh pecah, cairan yang mengandung HSV ini dapat menginfeksi orang yang bersentuhan langsung dengannya. Lepuhan yang pecah akan menjadi luka terbuka yang terasa menyakitkan. Luka ini juga bisa terinfeksi bakteri yang dapat memperlambat pemulihan.

Kamu masih dapat menginfeksi bahkan saat lesi telah sembuh karena virusnya masih ada di kulitmu selama proses penyembuhan. Artinya, sampai lepuh atau lukamu mengering, kamu masih bisa menginfeksi orang lain dan “menyebarkan” virus. Sampai kulit dalam keadaan normal seperti sebelum lecet barulah fase akut dianggap selesai. Menggunakan kondom memang memberikan perlindungan kepada pasanganmu tetapi karena kondom mungkin tidak menutupi semua lesi, pasanganmu masih mungkin untuk terinfeksi.

Oleh karena itu, saran saya untuk pasien saat terjadi flare akut adalah

  • Perawatan yang tepat
  • Berhati-hatilah agar lepuh/luka mu tidak tersentuh orang lain
  • Jangan menggunakan handuk yang sama dengan orang lain
  • Hindari aktivitas seksual setidaknya selama tiga minggu atau sampai luka benar-benar sembuh

Fase laten

Dalam fase kronis atau laten, virus HSV tetap berada di sistem tubuhmu, tapi tidak melakukan apa pun. Kamu akan merasa benar-benar normal selama fase ini. Seperti memiliki herpes zoster atau cacar ular setelah kamu menderita cacar air, tidak mungkin untuk memprediksi kapan infeksi HSV berubah dari fase laten ke fase akut.

Beberapa pasien memiliki fase laten yang berlangsung hingga bertahun-tahun sementara yang lain mengalami fase akut yang berulang setiap satu – dua bulan. Biasanya secara alami frekuensi flare berkurang seiring berjalannya waktu. Dalam 12 bulan pertama setelah terinfeksi Herpes, frekuensi flare rata-rata setiap 1 sampai 2 bulan sekali. Dan berkurang menjadi sekali dalam tiga sampai empat bulan sekali dalam 12 bulan setelahnya. Frekuensinya akan terus berkurang hingga pasien mencapai fase stabil. Bagi kebanyakan pasien, fase stabil berarti flare terjadi sekitar setahun sekali.

Lemahnya sistem kekebalan juga membuat pasien berisiko terkena serangan herpes. Misalnya ketika jatuh sakit karena penyakit lain, bahkan flu biasa sekalipun. Atau minum obat yang dapat melemahkan sistem kekebalan seperti steroid. Atau bahkan terlalu sering begadang.

Seseorang pembawa virus herpes juga masih dapat menularkan virus selama fase laten. Hal ini disebabkan peluruhan virus tanpa gejala. Hal ini berarti orang tersebut akan terus mengeluarkan virus herpes dari kulitnya tanpa menunjukkan tanda atau gejala apa pun dan merasa sehat sepenuhnya. Meskipun tingkat infektivitas selama fase laten jauh lebih rendah dibandingkan ketika fase flare.

Bagaimana cara saya mendapatkan tes herpes?

Ada dua cara untuk menguji HSV: Tes darah, dan tes usap pada lepuh atau bisul.

Bagaimana cara mengatasi herpes?

Herpes tidak dapat disembuhkan. Ketika seseorang telah terinfeksi, ia akan membawa virus tersebut di dalam tubuhnya seumur hidup. Namun, tidak semua orang yang memiliki herpes harus menjalani pengobatan.

Ada orang yang hidup dengan herpes tapi sangat jarang mengalami fase flare. Atau yang mengalami flare yang sangat ringan bahkan tanpa pengobatan, hilang dalam beberapa hari dan tidak mengganggu pasien. Banyak orang memilih untuk tidak secara aktif mengobati flare herpes dan ini tidak masalah.

Obat anti virus adalah pengobatan herpes yang bisa diandalkan. Pengobatan tersedia dalam bentuk tablet anti virus dan krim anti virus. Ada dua strategi untuk mengobati herpes: ad-hoc dan supresif atau penekanan. Pengobatan supresif tidak dimaksudkan untuk menyembuhkan virus tetapi untuk mengurangi kemungkinannya untuk kambuh.

Kesimpulannya

HSV adalah virus yang sangat umum dan akan tetap berada dalam tubuh seumur hidup. Selain kambuhnya infeksi akut yang terjadi sesekali, efek samping infeksi jangka panjangnya sangat minimal. Hal terpenting yang harus dilakukan adalah mencari bantuan medis sejak dini, mendapatkan diagnosis, dan merencanakan cara terbaik untuk menangani flare saat kambuh.

Penulis yang sama

dapatkan update terbaru

Berlangganan newsletter kami

Berlangganan newsletter kami