Leaking of water from stainless steel sink pipe on isolated on blue background

Nyeri saat buang air kecil? Baca 5 penyebabnya.

Ditulis oleh:

Dr Tan Kok Kuan

Dr Tan Kok Kuan

Dr Tan is a medical doctor in private practice focusing on men's health, and a contributing author of the Singapore HIV PrEP prescribing guidelines and the Blueprint to end AIDS and HIV transmission in Singapore by 2030. Read more of his articles at http://drtanmenshealthblog.com.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin

iklan

Nyeri ketika buang air kecil memang sangat tidak nyaman. Sakitnya bisa mulai dari sekadar rasa hangat sampai terasa seperti melalui silet ketika kencing. Ada beberapa penyebab rasa nyeri saat kencing pada pria. Lima diantaranya adalah:

Infeksi saluran kemih

Ini adalah infeksi urin di kandung kemih yang disebut cystitis atau sistitis. Meskipun lebih umum terjadi pada wanita, hal ini juga dapat dialami oleh pria. Bakteri yang ditemukan di kulit naik ke uretra (tabung urin di dalam penis) dan masuk ke kandung kemih. Mekanisme pertahanan tubuh adalah dengan mengeluarkan bakteri tersebut bersama dengan urin. Namun, terkadang tidak semua bakteri dikeluarkan dan ini menyebabkan infeksi kandung kemih.

Pasien yang mengalami infeksi kandung kemih juga akan mengalami peningkatan frekuensi buang air kecil, urgensi buang air kecil, dan gejala infeksi lain seperti demam dan nyeri di seluruh tubuh. Beberapa pasien juga mengalami rasa mual. Infeksi kandung kemih mudah didiagnosis dengan tes urine dan dapat diobati dengan antibiotik.

Batu kandung kemih

Batu kandung kemih adalah batu yang terdapat di kandung kemih. Sebagian besar batu ini cukup kecil untuk dikeluarkan bersama dengan urin. Namun, karena ujung batu ini mungkin tajam, mereka bisa menggores dan melukai uretra saat dikeluarkan. Hal ini menyebabkan rasa sakit secara tiba-tiba di tengah aliran urin. Namun, rasa sakitnya juga hilang dengan cepat. Terkadang, kamu bisa mendengar ketika batunya jatuh di sisi toilet.

Batu kandung kemih dapat menyebabkan adanya sedikit darah pada urin. Ketika jumlah darahnya sangat sedikit, urin tidak akan terlihat merah. Tapi, warnanya berubah jadi keruh. Pada umumnya batu kandung kemih tidak memerlukan pengobatan karena akan keluar dengan sendirinya. Jika terjadi infeksi, maka harus diobati. Selain itu juga ada obat-obatan yang bisa membantu untuk mengeluarkan batu kandung kemih.

Klamidia

Klamidia dapat menyebabkan ketidaknyamanan saat buang air kecil, namun biasanya sangat ringan. Malah, beberapa pasien mendeskripsikannya sebagai rasa gatal ketimbang rasa sakit. Infeksi klamidia juga dapat menyebabkan keluarnya cairan tipis bening hingga kekuningan atau kehijauan dari penis. Sekali lagi, gejalanya bisa jadi sangat ringan sehingga satu-satunya tanda adalah noda di celana dalam pada pagi hari. Gejala klamidia dapat berkembang dari tiga hari hingga dua minggu setelah infeksi.

Infeksi klamidia mudah dideteksi dengan tes urin. Penyakit ini juga sangat mudah diobati dengan antibiotik.

Gonore

Seperti klamidia, gonore juga menginfeksi uretra dan ditularkan baik dari hubungan seks penetrasi dan oral. Meskipun begitu, gejalanya biasanya berkembang lebih cepat. Selain itu, rasa tidak nyaman saat buang air kecil biasanya lebih parah dengan kebanyakan pasien menggambarkannya sebagai rasa nyeri.

Petunjuk lain bahwa infeksi disebabkan oleh gonore adalah cairan yang keluar biasanya banyak dan sangat kuning. Beberapa pasien harus memakai tisu di celana dalam mereka untuk menyerap cairan tersebut dan mencegah noda. Sama seperti klamidia, infeksi gonore mudah dideteksi dengan tes urin dan dapat diobati dengan antibiotik.

Balanitis

Balanitis adalah infeksi kulup atau kepala penis. Rasa nyeri akan timbul ketika kencing bersentuhan dengan kulup yang terinfeksi, meradang dan bengkak. Jadi tidak seperti situasi lain di atas di mana rasa sakit ada di dalam saluran kemih, rasa nyeri saat buang air kecil yang dialami oleh pasien balanitis sebenarnya terdapat di bagian kulup. Segala macam bakteri dan jamur bisa menginfeksi kulup.

Kondisi yang melemahkan sistem kekebalan seperti diabetes meningkatkan risiko penyakit ini. Kulup yang ketat juga bisa lebih mudah robek. Kulit yang robek dapat menyebabkan rasa sakit yang lebih parah dan juga berrisiko lebih besar terkena infeksi.

Mengobati balanitis tidak hanya melibatkan pengobatan infeksinya, tapi juga penyebabnya. Jika seorang pasien menderita diabetes, gula darahnya harus terkontrol dengan baik. Jika kulup terlalu ketat, pasien harus mempertimbangkan untuk melakukan sunat.

Artikel ini, yang pertama kali muncul di blog Dr Tan, telah diedit panjang dan kejelasannya.

Penulis yang sama

dapatkan update terbaru

Berlangganan newsletter kami

Berlangganan newsletter kami