Whey protein powder in measuring scoop and different energy protein bar on grey background. Top view

Bagaimana memilih protein bar yang terbaik (NB. Tiap orang berbeda-beda)

Ditulis oleh:

Wesley Lo

Wesley Lo

Wesley is a health and fitness coach in Hong Kong, with a passion for finding ways to improve health, longevity and athletic performances.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin

iklan

Kalau kamu adalah penggiat kebugaran, saya rasa kamu pasti sudah pernah mencoba berbagai jenis protein bar. Kebanyakan orang memilih protein bar yang memiliki kandungan protein yang paling tinggi, atau yang rasanya paling enak.

Tapi sebenarnya, banyaknya protein tidak terlalu berpengaruh kalau kualitas proteinnya tidak baik. Dan protein bar yang rasanya lebih enak bisa saja mengandung bahan-bahan yang mungkin sama sekali tidak baik untukmu.

Terbuat dari apakah protein?

Berbagai jenis bahan protein di protein bar membentuk “profil amino” – dan protein bar yang berbeda akan memiliki profil yang berbeda. Pada umumnya, yang kamu cari adalah asam amino yang disebut “leusin”.

Leusin memicu sintesis protein otot, yang memfasilitasi pertumbuhan dan perbaikan otot. Meskipun begitu, ada beberapa pertimbangan lainnya, tergantung pada target dan pola makanmu.

Berikut contohnya. Kalau ada dua protein bar yang sama-sama mengandung 20gr protein, tapi salah satunya adalah protein nabati, sementara yang lain adalah protein whey dari susu, kamu harus memilih mana yang lebih cocok untukmu. Kalau targetmu adalah pertumbuhan otot, maka pilihan protein whey pastinya memiliki nilai yang lebih untukmu.

Tapi ini bukan berarti protein bar yang terbuat dari protein nabati tidak memiliki manfaat untukmu – mungkin targetmu adalah untuk meningkatkan asupan protein sehari-hari walaupun kamu adalah vegan. Protein bar nabati juga biasanya mengandung lebih banyak bahan-bahan alami, yang bisa jadi lebih sehat untukmu.

Bahan pemanis dan minyak

Ada banyak jenis bahan pemanis yang beredar di pasaran dan beberapa di antaranya sudah terbukti berpotensi membahayakan jika kamu mengonsumsinya terlalu banyak. Dari pengalaman saya, pilihan terbaik untuk bahan pemanis adalah stevia, buah biksu (luo han guo), dan erythritol.

Tidak seperti pemanis buatan dan gula, stevia dapat menekan kadar glukosa plasma dan meningkatkan toleransi glukosa secara signifikan. Secara teknis, stevia bukanlah pemanis buatan karena terbuat dari daun tanaman stevia.

Buah biksu atau luo han guo adalah buah yang jika dibuat menjadi ekstrak dapat menjadi pengganti gula yang baik karena tidak mengandung kalori, sodium, dan lemak. Alkohol gula seperti erythritol secara alami ditemukan di berbagai tanaman dan buah beri. Jenis yang paling sering digunakan dalam industri makanan dibuat secara sintetis.

Selain gula, usahakan juga untuk menghindari minyak terhidrogenasi, yang bisa dibilang adalah jenis minyak terburuk dari segi nutrisi. Contoh minyak yang baik di antaranya adalah minyak biji rami, minyak wijen, dan minyak zaitun. Jika memungkinkan, pilihlah protein bar yang memiliki daftar kandungan bahan lengkap sehingga kamu dapat memahami bagaimana pembuatan protein bar tersebut.

Kalau kamu kurang tertarik dengan protein bar, jangan khawatir! Mengonsumsi makanan utuh sebanyak mungkin masih menjadi hal terbaik yang dapat kamu lakukan untuk tubuhmu. Semoga berhasil!

This sponsored post was brought to you by Biovida. At Biovida, we offer products to enhance your life. Let us help you be the healthiest you can be both inside and out. With good health, anything is possible. Take charge of your life’s journey, with Biovida.