Dari Panti Asuhan hingga Olimpiade

Ditulis oleh:

asiadotgay

asiadotgay

asia.gay is your reference to travel, lifestyle, sex, relationships, health, culture and communities across Asia, in multiple languages.

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on linkedin

iklan

Berbeda dari olahraga lainnya, cabang olahraga loncat indah bisa membuat para penontonnya basah. Maksudnya ya … cipratan air dan sebagainya … (Badan kekar yang cuma sedikit dibalut bikini juga tidak membuat kita tetap kering … ya gitu deh.)

Untuk para penonton gay, loncat indah memiliki makna tersendiri. Isu homoseksualitas di Olimpiade muncul pertama kali pada 1994-5 ketika legenda Amerika Greg Louganis – mungkin adalah peloncat indah terbaik dalam sejarah – mengaku bahwa ia adalah gay dan HIV positif. Pengakuannya itu menyebabkan perdebatan semi-homofobia yang intens seputar kegagalan untuk mengungkapkan status HIV-nya setelah kepalanya terbentur batu loncatan dan berdarah di dalam kolam selama Olimpiade Seoul 1988 tujuh tahun sebelumnya.

Loncat indah sudah berprogres jauh sejak saat itu. Perjuangan Tom Daley menjadi atlet gay di hadapan publik membuka jalan bagi atlet LGBTQ lainnya untuk menunjukkan jati dirinya. Tahun ini sang atlet kesayangan Inggris ini tidak hanya memenangkan emas yang memang pantas didapatkannya dalam loncat indah sinkronisasi papan 3 meter, tetapi juga mencuri hati kita semua ketika ia tertangkap kamera sedang merajut untuk suaminya, penulis Dustin Lance Black, dan putra mereka.

Tapi Daley bukan lagi satu-satunya kesayangan para pemirsa gay. Kini banyak pula yang jatuh cinta dengan Jordan Windle yang baru berusia 22 tahun dan memiliki kisah hidup yang luar biasa.

Lahir di Kamboja, Jordan ditempatkan di panti asuhan ketika ia berusia satu tahun setelah ia kehilangan kedua orang tuanya. Untungnya, ia diadopsi oleh Jerry Windle, seorang pria gay lajang yang kesulitan ketika mencoba mengadopsi di negara asalnya, AS.

Enam tahun kemudian, bakat Jordan dalam olahraga tersebut mulai terlihat ketika dia pergi ke perkemahan musim panas. Dia segera didaftarkan dalam program loncat indah dan terus cemerlang sejak saat itu. Dibesarkan dengan orang-orang gay sepanjang hidupnya dan diintimidasi karena adopsi antar ras dan ayah gaynya, Jordan sangat vokal tentang hak-hak LGBTQ.

Sebelum Tokyo, Jordan sudah dibimbing oleh peraih medali emas Olimpiade 4 kali, Louganis. Jordan menempati posisi ke-9 di Tokyo, dan kami berharap dapat melihat lebih banyak lagi aksi dari sang atlet berusia 22 tahun ini di Paris Games 2024.

Beberapa penonton mungkin kecewa dengan fakta bahwa Jordan adalah pria heteroseksual. Namun, kami berharap kisah hidupnya yang menginspirasi dan tato Angkor Wat nya yang seksi bisa memotivasi kamu untuk menemukan Olympian di dalam dirimu (atau di dalam mu, jika kamu beruntung!)

@image source Jordan Windle’s FaceBook

Penulis yang sama

dapatkan update terbaru

Berlangganan newsletter kami

Berlangganan newsletter kami